Pages

Jumat, 18 April 2014

Teman Hidupku

"Mau dikatakan apalagi kita tak akan pernah satu engkau disana aku disini meski hatiku memilihmu.."

Alunan lagu Mantan Terindah yang dinyanyikan Raisa mengalun lembut di telingaku. Sore itu aku datang ke cafe tempat dimana kita pertama kali bertemu. Entah angin apa yang membawaku keseni. Seorang pelayan mendatangiku. 
"Eh, Mbak Tita tumben kesini sendirian hla Masnya mana?", tanya pelayang itu.
"Iya ini Mbak lagi pengen sendiri mumupung tadi lewat, aku pesen coffee milk ya sama blackforest," jawabku.
"Coffee milknya es atau panasa yang medium atau small?" tanyanya lagi.
"Yang es ukuran medium aja, yang cepet ya mbak hehehe haus ini," jawabku sambil tersenyum.
"Siap Mbak, tunggu sebentar ya," katanya sambil pergi dan tersenyum.

Ah ternyata masih ada yang ingat dengan aku. Padahal terakhir kamu mengajakku kesini sudah cukup lama, mungkin setengah tahun yang lalu sebelum kamu pergi menginggalkanku untuk sebuah ambisimu itu. Darahku berdesir lagi ketika mengingatmu, jantungku masih saja berdebar ketika menyebut namamu. Lagu Puisi dari Jikustik mengalun lembut lagi dan saat itu pesananku datang dan saat bersamaan itu pintu cafe itu terbuka. Sosok laki-laki tinggi, tampan, beralis tebal yang tak asing bagiku. Jantungku kembali berdebar darahku berdesir dengan hebatnya. Dia tersenyum dan berjalan kearahku.
"Tita?" tanyanya sambil tersenyum.
"I..iya, Edoa?" tanyaku dengan gugup.
"Iya, ini gue, hahaha lo pasti lupa kan ahahhaha pelupa lo gak ilang-ilang aja," ejeknya.
"Kamu tambah cakep aja Do," kataku nglantur.
"Ha? Lo bilang apa tadi? Hahahaha," tawanya kembali menggelegar.
"Sorry salah ngomong hehe, kapan balik?" tanyaku.
"Kemarin, gue balik cuma bentar mau konsultasi sama dosen sini dulu terus balik lagi," jawabnya.
"Oh gitu, kamu kesini mau ngapain? Ketemu orang?" tanyaku lagi.
"Mmmm, enggak cuma mampir aja kangen gue, kangen cafe ini, kangen seseorang yang dulu pernah gue ajak kesini dulu juga, kangen makanan, kangen semuanya dah," jawabnya.
"Kamu gak mau pesen? Atau mau aku pesenini coffee milk sama nasi goreng?" tanyaku.
"Masih tau aja kesukaan gue Ta, masih sering mikirin gue ya? Hahahaha," ejeknya.
"Kalau iya kenapa kamu juga gak pernah peduli kan wek ahahha," jawabku seenaknya untuk mencairkan suasana.
Edo diam aku juga diam. Aku tidak suka suasan seperti ini, seakan aku ingin memeluknya dan meluapkan segala luapan rasa rinduku padanya.
"Ta, lo udah punya pacar?" tanya Edo.
"Ha?" tanyaku kaget.
"Gue tanya beneran Ta, jujur gue belum bisa lupain lo padahal cewek disana cantik-cantik lo itu beda dari mereka lo itu istimewa," katanya.
Aku diam saja mendengarkan dia bercerita. Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku bingung. 
"Do, jujur ya aku dari dulu sampai sekarang masih mm mungkin sayang sama kamu aku masih suka mikirin tapi ahsudahlah nyesek ih aku hahaha," kataku.
"Maaf Ta dulu aku ninggalin kamu demi ambisiku," katanya sambil memegang tanganku, "gue pengen kaya dulu lagi boleh? deket sama lo lagi?" tanyanya sambil memegang tanganku lebih erat.
Aku tersenyum dan membalas pegangannya, aku diam dan dia tersenyum lebih manis. Mungkin baginya senyumanku adalh suatu jawaban. Kami pun diam dan saling memandang dan larut dalam alunan lagu Teman Hidup dari Tulus. Mungkin memang Edo teman hidupku yang dulu pernah hilang dan sekarang telah kembali.
Lalu Edo mengajakku pergi dan menggandeng erat tanganku.



Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku berdua kita hadapi dunia.
Edo & Tita

Rabu, 02 April 2014

Surat Untuk Mantan

Surat Untuk Mantan

Solo, 1 April 2014
Teruntuk separuh hatiku yang pergi,
Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabar Mas? Semoga kamu baik-baik saja dan selalu dalam lindunganNya. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Semoga pekerjaanmu selalu dimudahkan olehNya. Bagaimana rasa kopi buatanya? Apakah seenak kopi buatanku? Sekental kopi buatanku? Hahaha aku rasa kamu akan menjawab iya dengan yakinnya.
            Mas, asalkan kamu tahu setelah kamu pergi meninggalkanku seperti ada ruang kosong di hatiku yang tak berpenghuni seperti dulu. Mungkin aku sangat tolol mengatakan ini tapi aku hanya ingin berkata jujur. Mas, asal kamu tahu kamu masih menjadi angin penghidupanku, angin penyejuk dalam setiap langkahku. Kamu masih jadi irama dalam detak jantungku. Dan kamu masih menjadi kopi panasku yang membuat aku mengerti arti sebuah kehidupan.
Mas, aku selalu merindukan setiap moment terdahulu yang kita lewati bersama. Kamu boleh memakiku saat ini ketika kamu membaca surat dariku ini. Tapi mengertilah Mas, kamu masih menjadi juara dalam hati ini, hati seorang perempuan muda yang mencari pangerannya kelak.
            Mas, apakah kamu masih sering berpergian dengan vespa tuamu? Apakah perempuanmu saat ini mau menaiki vespa tuamu itu bersamamu? Apakah dia selalu mengiringi setiap langkahmu? Apakah dia selalu memberimu dorongan seperti aku dulu? Dan saat kamu membaca bagian ini pasti kamu akan menjawab iya dan tertawa. Lalu kamu akan mengatakan “Dia cantik, baik, pintar, setia, dan mungkin lebih dari kamu”.
            Mas, apakah kamu masih meluangkan waktumu untuk mengingatku? Apakah kamu masih menyimpan fotoku bersamamu dulu? Hahaha aku rasa kamu akan menjawab tidak dengan tegas. Mungkin hanya anganku belaka kamu masih mengingat semua anatar kamu dan aku. Mas, apakah aku boleh suatu saat nanti datang ke acara besarmu membawa buket bunga mawar cantik seperti mawar yang kamu berikan pertama kali untukku? Boleh kan? Aku sangat memaksa kamu menjawab iya.
            Mas, kamu masih sering merokok? Kurangi aku mohon jaga kesehatanmu. Hahaha apakah kamu masih ingat ketika aku marah denganmu karena kamu merokok disampingku? Kamu selalu mengalah, kamu selalu mematikan rokokmu ketika disampingku. Apakah perempuanmu saat ini mengizinkan kamu merokok disampingnya? Aku berharap dia sama sepertiku.
            Mas, disuratku ini aku hanya ingin mangatakan bahwa aku sangat teramat merindukanmu, sangat teramat kehilangan sosokmu. Mungkin kamu akan berpikir kenapa tidak dari dulu aku menulis surat seperti ini. Dulu aku belum berani mengatakan semua yang ada didalam hatiku. Dulu aku sangat penakut untuk jujur. Maafkan aku dulu aku sering membuatmu kecewa, maafkan aku yang selalu membuatmu marah dan harus terus mengalah. Aku sangat berharap semoga perempuanmu saat ini sangat mencintaimu, selalu menjagamu, dan selalu berdoa untukmu.
            Maaf apabila ada perkataanku yang tak berkenan untukmu Mas.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

With love
Masa lalumu yang selalu mendoakanmu

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard batubara @gramedia