Pages

Selasa, 13 Mei 2014

Merindu

"Aku mencoba berlari dari semua ini..
Berlari dari kenyataan ini..
Mencoba bertahan dengan pendirian teguh...
Namun tetap disetiap hembusan nafas ini..
Setiap tarikan hembusan nafas ini aku..
Aku masih saja memikirkanmu..
Masih saja merindukanmu...
Ingin slalu memelukmu..."

Aku menatap layar laptop lalu menghembuskan nafas panjang. Sepenggal puisi rindu telah tertulis rapi berjejer.
"Kenapa harus tentang kamu lagi," ucapku pelan. Aku membaca puisi itu lagi, kata demi kata mengartikan setiap kata dipuisi itu. Setetes air membasahi pipiku.
"Bodoh, lu nangis lagi Geb!!" kutukku dalam hati. Lalu aku menyruput coklat panasku, kala itu Yogyakarta hujan deras coklat panas memang paling cocok untuk suasana seperti ini. Pikiranku kembali melayang ke masa dimana kita masih bersama. Seperti film yang ditayangkan di layar bioskop setiap adegan terlihat apik dan natural.
Pintu kedai coklat terbuka banyak orang datang dan pergi silih berganti. Beberapa dari mereka berpasangan, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Aku mungkin iri dengan mereka. Pikiranku kembali melayang ke masa dimana kamu mengajakku pertama kali kesini. Saat itu hujan juga turun deras di kota gudeg ini. Kamu mengajakku berteduh dan minum coklat panas di kedai ini, lalu kamu meminjami jaketmu. Air mataku mulai menetes perlahan.
"Geby, please jangan nangis disini,"kataku dalam hati. Aku berusaha menahan tangisku yang tak dapat kubendung lagi. Lalu aku menghampiri meja kasir dan mebayar pesanan. Akupun pergi meninggalkan kedai coklat itu, semakin lama aku disana pikiranku akan penuh dengan sosokmu, dadakku akan terasa sesak dengan kenangan yang telah kamu buat dalam hidupku.
Aku berlari menembus hujan dengan payungku, berlari dan berlari. Air mataku sudah menetes dengan volume yang tak kutahui jumlahnya.
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu apakah ini hanya rindu belaka atau memang aku belum bisa melupakanmu secara utuh. Aku belum bisa menghapus bayangmu yang terlalu kuat dalam otakku, aku belum bisa menghapus namamu yang indah dalam hatiku. Aku aku aaa aku memang masih sering memikirkanmu..

Aku aku sangat merindukan, semoga kamu bahagia disana dengan sosok wanita yang kamu inginkan..

Yours ex :")

Jumat, 18 April 2014

Teman Hidupku

"Mau dikatakan apalagi kita tak akan pernah satu engkau disana aku disini meski hatiku memilihmu.."

Alunan lagu Mantan Terindah yang dinyanyikan Raisa mengalun lembut di telingaku. Sore itu aku datang ke cafe tempat dimana kita pertama kali bertemu. Entah angin apa yang membawaku keseni. Seorang pelayan mendatangiku. 
"Eh, Mbak Tita tumben kesini sendirian hla Masnya mana?", tanya pelayang itu.
"Iya ini Mbak lagi pengen sendiri mumupung tadi lewat, aku pesen coffee milk ya sama blackforest," jawabku.
"Coffee milknya es atau panasa yang medium atau small?" tanyanya lagi.
"Yang es ukuran medium aja, yang cepet ya mbak hehehe haus ini," jawabku sambil tersenyum.
"Siap Mbak, tunggu sebentar ya," katanya sambil pergi dan tersenyum.

Ah ternyata masih ada yang ingat dengan aku. Padahal terakhir kamu mengajakku kesini sudah cukup lama, mungkin setengah tahun yang lalu sebelum kamu pergi menginggalkanku untuk sebuah ambisimu itu. Darahku berdesir lagi ketika mengingatmu, jantungku masih saja berdebar ketika menyebut namamu. Lagu Puisi dari Jikustik mengalun lembut lagi dan saat itu pesananku datang dan saat bersamaan itu pintu cafe itu terbuka. Sosok laki-laki tinggi, tampan, beralis tebal yang tak asing bagiku. Jantungku kembali berdebar darahku berdesir dengan hebatnya. Dia tersenyum dan berjalan kearahku.
"Tita?" tanyanya sambil tersenyum.
"I..iya, Edoa?" tanyaku dengan gugup.
"Iya, ini gue, hahaha lo pasti lupa kan ahahhaha pelupa lo gak ilang-ilang aja," ejeknya.
"Kamu tambah cakep aja Do," kataku nglantur.
"Ha? Lo bilang apa tadi? Hahahaha," tawanya kembali menggelegar.
"Sorry salah ngomong hehe, kapan balik?" tanyaku.
"Kemarin, gue balik cuma bentar mau konsultasi sama dosen sini dulu terus balik lagi," jawabnya.
"Oh gitu, kamu kesini mau ngapain? Ketemu orang?" tanyaku lagi.
"Mmmm, enggak cuma mampir aja kangen gue, kangen cafe ini, kangen seseorang yang dulu pernah gue ajak kesini dulu juga, kangen makanan, kangen semuanya dah," jawabnya.
"Kamu gak mau pesen? Atau mau aku pesenini coffee milk sama nasi goreng?" tanyaku.
"Masih tau aja kesukaan gue Ta, masih sering mikirin gue ya? Hahahaha," ejeknya.
"Kalau iya kenapa kamu juga gak pernah peduli kan wek ahahha," jawabku seenaknya untuk mencairkan suasana.
Edo diam aku juga diam. Aku tidak suka suasan seperti ini, seakan aku ingin memeluknya dan meluapkan segala luapan rasa rinduku padanya.
"Ta, lo udah punya pacar?" tanya Edo.
"Ha?" tanyaku kaget.
"Gue tanya beneran Ta, jujur gue belum bisa lupain lo padahal cewek disana cantik-cantik lo itu beda dari mereka lo itu istimewa," katanya.
Aku diam saja mendengarkan dia bercerita. Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku bingung. 
"Do, jujur ya aku dari dulu sampai sekarang masih mm mungkin sayang sama kamu aku masih suka mikirin tapi ahsudahlah nyesek ih aku hahaha," kataku.
"Maaf Ta dulu aku ninggalin kamu demi ambisiku," katanya sambil memegang tanganku, "gue pengen kaya dulu lagi boleh? deket sama lo lagi?" tanyanya sambil memegang tanganku lebih erat.
Aku tersenyum dan membalas pegangannya, aku diam dan dia tersenyum lebih manis. Mungkin baginya senyumanku adalh suatu jawaban. Kami pun diam dan saling memandang dan larut dalam alunan lagu Teman Hidup dari Tulus. Mungkin memang Edo teman hidupku yang dulu pernah hilang dan sekarang telah kembali.
Lalu Edo mengajakku pergi dan menggandeng erat tanganku.



Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku berdua kita hadapi dunia.
Edo & Tita

Rabu, 02 April 2014

Surat Untuk Mantan

Surat Untuk Mantan

Solo, 1 April 2014
Teruntuk separuh hatiku yang pergi,
Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabar Mas? Semoga kamu baik-baik saja dan selalu dalam lindunganNya. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Semoga pekerjaanmu selalu dimudahkan olehNya. Bagaimana rasa kopi buatanya? Apakah seenak kopi buatanku? Sekental kopi buatanku? Hahaha aku rasa kamu akan menjawab iya dengan yakinnya.
            Mas, asalkan kamu tahu setelah kamu pergi meninggalkanku seperti ada ruang kosong di hatiku yang tak berpenghuni seperti dulu. Mungkin aku sangat tolol mengatakan ini tapi aku hanya ingin berkata jujur. Mas, asal kamu tahu kamu masih menjadi angin penghidupanku, angin penyejuk dalam setiap langkahku. Kamu masih jadi irama dalam detak jantungku. Dan kamu masih menjadi kopi panasku yang membuat aku mengerti arti sebuah kehidupan.
Mas, aku selalu merindukan setiap moment terdahulu yang kita lewati bersama. Kamu boleh memakiku saat ini ketika kamu membaca surat dariku ini. Tapi mengertilah Mas, kamu masih menjadi juara dalam hati ini, hati seorang perempuan muda yang mencari pangerannya kelak.
            Mas, apakah kamu masih sering berpergian dengan vespa tuamu? Apakah perempuanmu saat ini mau menaiki vespa tuamu itu bersamamu? Apakah dia selalu mengiringi setiap langkahmu? Apakah dia selalu memberimu dorongan seperti aku dulu? Dan saat kamu membaca bagian ini pasti kamu akan menjawab iya dan tertawa. Lalu kamu akan mengatakan “Dia cantik, baik, pintar, setia, dan mungkin lebih dari kamu”.
            Mas, apakah kamu masih meluangkan waktumu untuk mengingatku? Apakah kamu masih menyimpan fotoku bersamamu dulu? Hahaha aku rasa kamu akan menjawab tidak dengan tegas. Mungkin hanya anganku belaka kamu masih mengingat semua anatar kamu dan aku. Mas, apakah aku boleh suatu saat nanti datang ke acara besarmu membawa buket bunga mawar cantik seperti mawar yang kamu berikan pertama kali untukku? Boleh kan? Aku sangat memaksa kamu menjawab iya.
            Mas, kamu masih sering merokok? Kurangi aku mohon jaga kesehatanmu. Hahaha apakah kamu masih ingat ketika aku marah denganmu karena kamu merokok disampingku? Kamu selalu mengalah, kamu selalu mematikan rokokmu ketika disampingku. Apakah perempuanmu saat ini mengizinkan kamu merokok disampingnya? Aku berharap dia sama sepertiku.
            Mas, disuratku ini aku hanya ingin mangatakan bahwa aku sangat teramat merindukanmu, sangat teramat kehilangan sosokmu. Mungkin kamu akan berpikir kenapa tidak dari dulu aku menulis surat seperti ini. Dulu aku belum berani mengatakan semua yang ada didalam hatiku. Dulu aku sangat penakut untuk jujur. Maafkan aku dulu aku sering membuatmu kecewa, maafkan aku yang selalu membuatmu marah dan harus terus mengalah. Aku sangat berharap semoga perempuanmu saat ini sangat mencintaimu, selalu menjagamu, dan selalu berdoa untukmu.
            Maaf apabila ada perkataanku yang tak berkenan untukmu Mas.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

With love
Masa lalumu yang selalu mendoakanmu

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard batubara @gramedia

Sabtu, 08 Maret 2014

Mimpiku Mimpimu Mimpi Kita-part1

Mimpiku Mimpimu Mimpi Kita

"Mas, kamu punya harapan apa untuk kedepannya?" tanyaku.
Dia hanya diam dan tertunduk.
"Ora mudeng nduk, yang penting untuk saat ini Ibuku sembuh," jawabnya.
"Ibumu pasti sembuh kok Mas, kamu harus berani bermimpi Mas, ojo wedi," ucapku sambil menatap matanya lekat-lekat.
"Mimpiku saat ini kamu Dik, melamarmu lalu menikahimu," ucapnya sambil menggenggam tanganku erat-erat dan seketika ciuman hangat mendarat dibibirku. Aku malu darahku berdesir hebat. Tak biasanya Mas Dhani seperti ini.
"Aku sayang kamu Dik, mau kan jadi Ibu untuk anak-anakku kelak?" tanyanya.
Aku hany terdiam tak bisa menjawabnya dan memeluknya erat. Pelukan erat itu seakan jawabannya. Mas Dhani membalas pelukan itu lebih erat.
"Besok aku sowan ke rumahmua, untuk ngomongin ini tapi tanpa Ibuku De,k," ucapnya.
"Bapak sama Ibuku pasti tahu Mas keadaanmu sekarang," ucapku.
"Amin, ya wis yuk pulang wis bengi," ajaknya dia menggandengku, gandengan yang sangat erat.

****
"Pak, mengke Mas Dhani mau ke rumah," ucapku.
"Meh ngopo, Nduk?" tanya Bapak.
"Ajeng...mmmm mboten retos," jawabku sambil tersenyum.
"Halah, aku reti, wis kono ndang mandi,"  ucap Bapak.
Aku hanya mengangguk. 
Jam 5 sore Mas Dhani datang bersama Doni adiknya. 
"Assalmualaikum," Mas Dhani mengucap salam dan mencium tangan Bapak dan Ibu,
"Waalaikumsalam, wis ndang mlebu yo yo," ajak Bapak.
"Nduk, Rani Mas Dhani iki di gawekne unjukan," suruh Ibu.
Aku lalu membuat minuman.
"Hla ini yang ditunggu wis ngetok," celetuk Bapak, aku tersipu malu mendengar ucapan Bapak. 
"Ngeten Pak Bu sowan kula mriki ajeng nglamar Dek Rani," ucap Mas Dhani jantungku berdebar dan darhku mulai berdesir.
"Oalah, nek iku ya jawabane ning Ranine dewe Mas, Pie nduk?" tanya Bapak.
Aku malu wajahku merah merona.
"Biasane nek meneng ngene iki artine gelem," ucap Bapak sambil tertawa Mas Dhani hanya tersenyum.
"Kula mmmmm kula purun Pak," jawabku.
"Hla tenan to!" ucap Bapak sambil tertawa diikuti Ibu dan Dhoni tertawa. Mas Dhani tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah.
"Aku ngrestoni kowe cah loro, kowe tak wenehi kepercayaan di nggo nduweni atine anakku yo Dhan ojo nggawe loro atine anakku, Rani ki senenge karo kowe tenan," ucap Bapak kepada Mas Dhani.
"Injih Pak, insyaallah kula bakal jaga Dek Rani," ucap Mas Dhani.
"Mas Dhani pripun keadaane Ibu?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah Bu sampun wonten perkembangaan," jawab Mas Dhani.
"Ya Alhamdulilliah, ya wis gek ndang di minum teh'e," suruh Ibu.
Mas Dhani dan Dhoni meminum teh bikinanku. Tak selang berapa lama Mas Dhani pamit karena ada lembur di kantornya.
"Hati-hati di jalan Mas," ucapku.
"Iyo cah ayu, makasih ya aku seneng mimpiku mimpku mimpi kita wis enek sing terwujud,"ucapnya.
Aku tersenyum dan mencium tagannya, Mas Dhani pulang dan menghilang di belokan gang.

"Mas mimpi kita sudah terwujud satu semoga mimpi kita terwujud satu persatu lagi." 
bersambung....