Mimpiku Mimpimu Mimpi Kita
"Mas, kamu punya harapan apa untuk kedepannya?" tanyaku.
Dia hanya diam dan tertunduk.
"Ora mudeng nduk, yang penting untuk saat ini Ibuku sembuh," jawabnya.
"Ibumu pasti sembuh kok Mas, kamu harus berani bermimpi Mas, ojo wedi," ucapku sambil menatap matanya lekat-lekat.
"Mimpiku saat ini kamu Dik, melamarmu lalu menikahimu," ucapnya sambil menggenggam tanganku erat-erat dan seketika ciuman hangat mendarat dibibirku. Aku malu darahku berdesir hebat. Tak biasanya Mas Dhani seperti ini.
"Aku sayang kamu Dik, mau kan jadi Ibu untuk anak-anakku kelak?" tanyanya.
Aku hany terdiam tak bisa menjawabnya dan memeluknya erat. Pelukan erat itu seakan jawabannya. Mas Dhani membalas pelukan itu lebih erat.
"Besok aku sowan ke rumahmua, untuk ngomongin ini tapi tanpa Ibuku De,k," ucapnya.
"Bapak sama Ibuku pasti tahu Mas keadaanmu sekarang," ucapku.
"Amin, ya wis yuk pulang wis bengi," ajaknya dia menggandengku, gandengan yang sangat erat.
****
"Pak, mengke Mas Dhani mau ke rumah," ucapku.
"Meh ngopo, Nduk?" tanya Bapak.
"Ajeng...mmmm mboten retos," jawabku sambil tersenyum.
"Halah, aku reti, wis kono ndang mandi," ucap Bapak.
Aku hanya mengangguk.
Jam 5 sore Mas Dhani datang bersama Doni adiknya.
"Assalmualaikum," Mas Dhani mengucap salam dan mencium tangan Bapak dan Ibu,
"Waalaikumsalam, wis ndang mlebu yo yo," ajak Bapak.
"Nduk, Rani Mas Dhani iki di gawekne unjukan," suruh Ibu.
Aku lalu membuat minuman.
"Hla ini yang ditunggu wis ngetok," celetuk Bapak, aku tersipu malu mendengar ucapan Bapak.
"Ngeten Pak Bu sowan kula mriki ajeng nglamar Dek Rani," ucap Mas Dhani jantungku berdebar dan darhku mulai berdesir.
"Oalah, nek iku ya jawabane ning Ranine dewe Mas, Pie nduk?" tanya Bapak.
Aku malu wajahku merah merona.
"Biasane nek meneng ngene iki artine gelem," ucap Bapak sambil tertawa Mas Dhani hanya tersenyum.
"Kula mmmmm kula purun Pak," jawabku.
"Hla tenan to!" ucap Bapak sambil tertawa diikuti Ibu dan Dhoni tertawa. Mas Dhani tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah.
"Aku ngrestoni kowe cah loro, kowe tak wenehi kepercayaan di nggo nduweni atine anakku yo Dhan ojo nggawe loro atine anakku, Rani ki senenge karo kowe tenan," ucap Bapak kepada Mas Dhani.
"Injih Pak, insyaallah kula bakal jaga Dek Rani," ucap Mas Dhani.
"Mas Dhani pripun keadaane Ibu?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah Bu sampun wonten perkembangaan," jawab Mas Dhani.
"Ya Alhamdulilliah, ya wis gek ndang di minum teh'e," suruh Ibu.
Mas Dhani dan Dhoni meminum teh bikinanku. Tak selang berapa lama Mas Dhani pamit karena ada lembur di kantornya.
"Hati-hati di jalan Mas," ucapku.
"Iyo cah ayu, makasih ya aku seneng mimpiku mimpku mimpi kita wis enek sing terwujud,"ucapnya.
Aku tersenyum dan mencium tagannya, Mas Dhani pulang dan menghilang di belokan gang.
"Mas mimpi kita sudah terwujud satu semoga mimpi kita terwujud satu persatu lagi."
bersambung....